Sukses Mengusir Babyblues Bagian 2

originals.id – Karena sengaja tak menggunakan jasa pengasuh dan asisten, Tiwi pun menyediakan sendiri semua keperluan Reo. Seperti siang itu, usai pemotretan, Reo merengek minta makan. Dengan sigap, Tiwi menyiapkan MPASI. “Yuk, kita makan!” ajak Tiwi kepada Reo.

“Ruri adalah abangku…,” Tiwi melantunkan sebait lagu lawas di depan Reo. Ternyata Reo sangat antusias. Si kecil ini mencoba ikut bernyanyi namun hanya pekikan-pekikan kecil yang keluar. Bernyanyi bersama membuat Tiwi semakin dekat dengan Reo, sekaligus menghilangkan kejenuhan.

Mengapa Kita Berkeluarga?

Sewaktu masih gadis, menikah dan berkeluarga bukanlah bagian dari angan-angan masa depan saya. Punya pacar saja rasanya sudah cukup, yang penting ke mana-mana ada temannya. Enggak ribet. Tapi eh… waktu berlalu dan saya iyakan saja ajakan pacar untuk menikah. Waktu itu usia saya 27 tahun, dan segala kerepotan mempersiapkan pernikahan tidak membuat saya ingin mundur. Mungkin ini yang disebut “siap mental”.

Namun, dalam hati saya bertanya, mengapa pada akhirnya orang seperti saya (yang tidak suka terlalu terikat dan tidak peduli pada status di KTP) mau membentuk keluarga. Petugas KUA waktu itu bilang, menikah adalah ibadah. Saya bilang, pernikahan merupakan fase lanjutan yang mengharuskan seseorang jadi lebih dewasa, dan saya ingin menjadi manusia yang lebih dewasa.

Dua-duanya benar. Saya dan petugas KUA itu hanya berbeda pilihan kata. Setelah anak-anak hadir, tuntutan untuk jadi lebih dewasa tidak bisa saya hindari. Anak-anak butuh orangtua untuk membangun tonggak-tonggak kehidupannya sendiri. Tanpa itu, tonggak yang mereka bangun tidak akan berdiri kuat. Keluarga adalah ranah tempat berdirinya tonggak-tonggak itu, dan karenanya keluarga menjadi lingkungan paling ideal bagi anak-anak.

Tidak sebentar saya memahami alasan mengapa anak-anak paling baik tumbuh di tengah lingkungan keluarga. Ya, karena di situ ada cinta. Cinta adalah energi yang menggerakkan kita untuk mau membahagiakan orang lain. Prosesnya tentu tidak otomatis, penuh liku-liku dan cobaan. Namun demikian, keluarga layak untuk dipertahankan (tanpa ada yang merasa harus dikorbankan). Beneran!

Related Posts

About The Author