Stop Beri Uang, Jadilah Sahabat

pascal-edu.com – Sahabat Anak pun terus mengampanyekan pemenuhan hak identitas anak jalanan berupa pembuatan akta lahir bagi sebagian besar anak jalanan yang tidak memilikinya karena alasan biaya, ketidaktahuan, serta ketidaklengkapan dokumen. Hal ini penting karena akta lahir bagi anak adalah akses untuk sekolah, bekerja, menikah, dirawat di RS, bahkan meninggal.

“Ketiadaan akta lahir membuat anak-anak jalanan rentan masuk dalam kasus pelecehan seksual, trafcking, kriminal, dan sebagainya.” Program revolusioner lainnya yang dijalankan Sahabat Anak, sebelum Perda DKI No. 8/2007 tentang larangan memberikan uang kepada pengemis, pengamen, dan anak jalanan, Sahabat Anak dari akhir tahun 2000 telah mengampanyekan gerakan “Stop Beri Uang, Jadilah Sahabat”.

Dari semua program dan kegiatan yang ada, juga banyaknya jumlah anggota dan anak-anak yang bergabung, maka pada 2008 disepakati bersama bahwa Sahabat Anak membutuhkan payung resmi dalam bentuk Yayasan. Setelah pengurusan selama hampir 2 tahun, akhirnya Yayasan Sahabat Anak resmi terbentuk pada 2010 yang mempunyai visi dan misi: menyadarkan anak jalanan bahwa mereka manusia ciptaan Allah yang berharga dan mulia, serta melibatkan sebanyak mungkin pribadi/pihak untuk peduli kepada anak jalanan dengan menjadi seorang sahabat yang menaruh kasih setiap waktu.

Apa yang dilakukan Linayati tersebut tentu atas sepengetahuan keluarganya. “Mereka pengertian, dari seringnya saya pulang malam, jadwal kegiatan seharihari yang padat, karena usai ngantor langsung rapat atau bertemu calon donatur atau ada kasus anak yang mesti ditangani segera. Walau demikian, mereka tetap membantu, khususnya menjadi donatur,” tutupnya.

Sahabat Anak

Bersama beberapa temannya, Linayati akhirnya membuat sebuah komunitas yang diberi nama “Sahabat Anak”. Kegiatannya adalah melakukan kunjungan ke titik-titik berkumpul anak-anak jalanan; bisa di lampu merah, di taman, di kolong jembatan, di stasiun KA, di terminal. Awalnya hanya mengajak berkenalan, ngobrol, bermain, membagikan makanan kecil, lalu mendata jumlah anak yang sekolah dan tidak, yang bisa baca dan menulis, yang buta huruf. “Dari situ kami tahu apa yang mereka butuhkan dan apa yang paling pas buat mereka.

Related Posts

About The Author