Peluang bisnis daur ulang sampah plastik , Seberapa besar modal nya ?

Dalam jangka panjang, bisnis daur ulang limbah plastik memiliki peluang cukup luas dan menjanjikan. Selain mengurangi penggunaan bahan baku baru, daur ulang juga mengurangi penggunaan energi, degradasi lahan, dan emisi polusi dan gas rumah kaca. Di negara maju, daur ulang adalah hal yang lumrah.

Bahkan, setiap rumah tangga melakukannya dimulai dengan plastik menyortir organik dan non-organik. Selanjutnya, komunitas negara-negara maju juga menghargai barang yang terbuat dari hasil
mendaur ulang.

Menurut Indra, suatu kondisi yang belum terjadi di Indonesia. Namun, kehadiran pengusaha telah membantu menyadarkan pentingnya sampah masyarakat pengelolaan sampah yang baik.

Indra menegaskan, faktor utama bisnis DUP ini adalah bahan baku, yaitu sampah plastik. Memang, selama orang masih menggunakan barang dari bahan plastik, akan ada limbah. Kemudian, bisnis DUP dapat terus tumbuh.

Sebelum bijih yang dihasilkan sehingga plastik, titik awal dari pengumpulan bahan baku dilakukan oleh pemulung. sampah plastik juga dapat diperoleh dari limbah kantor, toko, hotel, dan lain-lain. Selanjutnya, pengumpulan dan pembuangan pemulung dikumpulkan oleh kolektor. “Dari grosir, dan kemudian masuk sampah plastik ini untuk penggiling sebelum masuk ke pabrik bijih plastik,” jelasnya.

Saut mengatakan, di kota-kota besar, ada pemain yang menguasai saham dari sampah plastik. Oleh karena itu, pengusaha harus sampah pintar mencari tempat-tempat baru yang memproduksi bahan baku alias sampah plastik.

baca : Daftar harga mesin pencacah plastik

Kekurangan bahan baku dan jumlah pengusaha GKG jadi kendala untuk bisnis ini. Dengan demikian, pemain memiliki strategi khusus, yakni pasangan. Indra, misalnya, menawarkan kemitraan bagi orang-orang yang tertarik menjadi pemasok bijih plastik. “Mereka membeli mesin dalam Aku dan Aku menjamin akan membeli bijih plastik diproses dari mereka,” kata Indra.

Baca:  4 Inspirasi Kreatif Untuk Merancang Resepsi Pernikahan Meriah Di Rumah

Saat ini, Indra memiliki sekitar 30 mitra yang tersebar di daerah-daerah terpencil di negara itu, misalnya Anambas dan Manokwari. Masing-masing mitra, kata Indra, bisa menghasilkan 10 ton bijih plastik per bulan.

Hal yang sama dilakukan Saut. Dengan demikian, ia baru saja membuka DUP cabang bisnis di Semarang, Jawa Tengah, dengan sistem bagi saham. “Tujuannya adalah untuk meningkatkan omset karena lebih sulit untuk mendapatkan bahan baku di Jawa Timur,” katanya.

Untuk pemasaran, Saut juga fokus pada pasar domestik. Dia menargetkan usaha mikro, kecil dan menengah (UKM) yang membutuhkan bijih plastik untuk membuat kantong plastik (plastik), terutama di luar Jawa. “Klien saya adalah di beberapa kota, seperti Medan, Banjarmasin, Makassar dan Ambon,” katanya.

Menurut perhitungan Saut, untuk pemain baru, modal yang dibutuhkan untuk memulai sekitar Rp 2 miliar. Modal untuk pabrik dengan kapasitas 100 ton dan tidak termasuk tanah dan bangunan. “Sebanyak Rp 1 miliar untuk upaya turnaround, sisanya untuk membeli mesin,” katanya.

Mesin-mesin yang digunakan untuk mengolah sampah plastik terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah mencuci mesin penggilingan yang terdiri dari mesin penggilingan, konveyor, sentrifugal, dan pengeringan oven. Saut mengatakan, kadang-kadang pengeringan dapat dilakukan secara manual dengan pengeringan. Namun, selama musim hujan, pengeringan oven yang bisa diandalkan. Berikutnya adalah peletizer, mesin yaitu untuk plastik meleleh untuk membentuk bijih plastik.

Mesin untuk pengolahan sampah plastik, menurut Saut, bisa memakai produk lokal, namun dengan kualitas yang tidak terlalu baik. Dengan demikian, sebagian besar pemain yang diimpor mesin produksi dari Cina dan Taiwan.

Related Posts

About The Author