Kisah Tentang Pesta Pernikahan

Barusaja aku pulang dari kerja. Tubuh serasa capek. Segala menjadi lungkrah tiba-tiba.

Aku belum kekamar, kamarku terlalu jauh di belakang. Akhirnya terstop sofa ruang tamu yang empuk.

Kurebahkan punggung yang seperti barusan dipukuli tanpa melakukab pembalasan.

Kutengok meja ruang tamu, kuingat kopiku masih tersisa. Cukup lah buat nambahin nikmatnya rokok.

Eh ternyata ada sebuket undangan pernikahan. Undangan pernikahan seorang kawan. Saya ikut senang, sekaligus duka.

Keselip lagi-keselip lagi. Dalam batinku.

Saya terkagum-kagum dengan seseorang yang berani berkeputusan untuk menikah.

Menikah yang bagaimana?

Menikah cepat. Lebih cepat ketimbang usia standarnya menikah.

Usiaku kini menginjak 23. Ya, aku dilahirkan 23 tahun yang lalu.

Semakin umurnya kesini, saya makin sering memikiran pernikahan. Antara ingin dan ambyar. Semua berpaduan jadi satu.

Saat usiaku 17 tahun, saya berencana ingin menikah diusia 19 tahun. Betapa menggebu-nggebunya kemauan pada waktu itu.

Berhubung jodoh belum ketemu –bahkan sampai sekarang–, akhirnya saya merubah rencana. Menambahkan angka 19 dengan angka yang entah berapa.

Sekarang sudah banyak sekali melakukan input angka yang lamat-lamat.

Selain itu, kini saya juga menginput beberapa informasi dari bacaan, film, podcast ataupun desas-desus orang, yang membelajari saya tentang perspektif baru terkait pernikahan.

Mulai dari hal indah yang kecil-kecil seperti sarapan dengan bersuapan, sampai keruwetan yang begitu berlapis-lapis seperti anggaran belanja yang mogok.

Memang saya terlahir dari keluarga yang harmonis, ibu dan ayah saya saling menyayangi. Sampai saat ini.

Saya tidak pernah melihat ayah dan ibu saya bersengketa. Nada suara tinggi saja tak pernah kudengar. Aku bersyukur.

Namun aku sadar, hal itu tidaklah cukup untuk memberantas beberapa kekhawatiran dalam kelumit pernikahan.

Baca:  Mau Tahu Apa Bedanya Pertumbuhan dan Perkembangan Guys?

Berapa banyak pernikahan yang tak seindah nuansa keromantisan ayah dan ibu saya.

Terkadang dalam waktu luang saya termenung, apakah pernikahanku kelak seindah ayah ibuku. Ah..aku tak tahu. Chusnudhon saja.

Kutatap lagi undangan yang kudapat sembari menyelipkan doa agar pernikahan pengundang senantiasa langgeng dan berselimut kegembiraan-kegembiraan.

Saya turut bersuka cita karena kalian telah saling menemukan. Dan tentunya berani memutuskan untuk merajut bahtera bersama.

Tentu aku akan menyusul kalian. Tapi jangan tanyakan waktunya. Tunggu saja undanganku datang kerumah-rumah kalian.

Menikah itu mudah, menemukan pasangannya yang susah. Dasar aku.

Belum lagi seabrek keperluan ini itunya. Tata rias lah, dekorasi lah, busana pengantin lah, sampai hal kecil yang tak boleh ketinggalan, yaa..pengadaan souvenir pernikahan yang unik.

Teman pengundangku..

Semoga pernikahanmu berlimpah berkah.

Sewaktu aku hadir di pestamu, jangan sampai ada kata “kapan” yang kau siramkan ke telingaku. Kamu pernah sendiri. Jadi pasti sudah tahu sebetapa bencananya kata kapan itu.

Sekian dulu. Aku mau rebahan..

Related Posts

About The Author